Pages

ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR Myspace Falling Objects @ JellyMuffin.com ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR Myspace Layouts

Friday, December 21, 2012

[PDC-Review] INTERPRETASI CITRA UNTUK KAWASAN PERKOTAAN & PERMUKIMAN


Pertambahan jumlah penduduk dan tingkat perekonominan masyarakat dari tahun ke tahun semakin menambah kebutuhan masyarakat terhadap kebutuhan rumah. Pemanfaatan lahan - lahan  produktif dan lahan kosong sangat dibutuhkan pengembang (developer) dalam mengembangkan permukiman. Hal ini dilakukan karena lahan di tengah kota sudah tidak ada tempat yang ideal dari sisi ekonomi. Untuk itu diperlukan data dasar mengenai luas lahan yang telah berubah peruntukannya menjadi permukiman sehingga didapatkan perencanaan yang berkesinambungan. Data dasar yang digunakan pada penelitian ini berupa data spatial dan data tabular.
Data spasial berupa gambar citra berperan penting dalam analisis kawasan perkotaan dan permukiman pada masa sekarang karena melaui citra yang dihasilkan oleh teknologi penginderaan jauh, karena kemajuan teknologi mendukung diperolehnya data yang mempunyai tingkat kedetailan yang tinggi. Peningkatan penggunaannya dikarenakan citra dapat menggambarkan obyek, daerah, dan gejala di permukaan bumi. Bentuk dan letak obyek relative lengkap, dapat meliput daerah luas, dan bersifat permanen. Sehingga citra merupakan alat yang baik sekali untuk pembuatan peta, baik sebagai sumber data maupun sebagai kerangka letak. Citra dapat pula berfungsi sebagai model medan. Berbeda dengan peta yang merupakan model simbolik dan formula matematik yang merupakan model analog, citra (terutama foto udara) merupakan model ikonik karena ujud gambarnya mirip dengan obyek yang sebenarnya.
Citra penginderaan jauh (satelit) mempunyai resolusi spasial dan resolusi temporal yang tinggi, sangat tepat digunakan untuk kajian kawasan permukiman yang mengalami perkembangan sangat cepat, dan perkembangan permukiman.

v  METODE PENGINDERAAN JAUH
Dalam metode penginderaan jauh menurut Roscoe (1960)  dalam Sutanto (1992),  terdapat 6 tahapan yaitu ;
1.  Merumuskan Masalah dan Tujuan dalam Metode Penginderaan Jauh
    Perumusan tujuan dimulai dengan perumusan masalah secara jelas. Masalah dapat berupa sesuatu yang aneh yang tidak pada tempatnya atau tidak biasa terjadi, sesuatu yang kurang jelas, sesuatu yang menimbulkan tantangan. Misalnya pemotretan bagi sebagian wilayah Indonesia yang hampir selalu tertutup oleh awan (Tejoyuwono, 1982 dalam Sutanto, 1992:83).
2.   Cara Mengevaluasi Kemampuan dalam Metode Penginderaan Jauh
     Setelah masalah dan tujuan dirumuskan dengan jelas, barulah dilakukan penilaian terhadap kemampuan pelaksanaannya yang menyangkut tentang kemampuan pelaksanaan dan timnya, alat, perlengkapan, dana dan waktu yang tersedia. Antara kemampuan dan tujuan yang ingin dicapai harus sesuai.
3.    Pemilihan Cara Kerja dalam Metode Penginderaan Jauh
Agar dapat dilakukan pemilihan cara kerja yang baik, perlu diketahui tentang perencanaan penggunaan lahan dan apa pula tugasnya.
4.    Hal-hal yang Perlu Dilakukan dalam Tahap Persiapan Metode Penginderaan Jauh
Menurut Sutanto (1992:87-92) menyatakan dalam tahap persiapan metode penginderaan jauh ada empat, yakni sebagai berikut:
a)        Menyiapkan data acuan, data acuan adalah data yang bukan berasal dari penginderaan jauh, akan tetapi data tersebut diperlukan dalam interpretasi citra.
b)        Menyiapkan data penginderaan jauh, Data pengideraan jauh adalah hasil perekaman obyek dengan menggunakan sensor buatan.
c)        Menyiapkan mosaik, mosaik foto adalah serangkaian foto daerah tertentu yang disusun menjadi satu lembar foto.
d)       Orientasi medan, pekerjaan ini dilakukan dengan membawa foto ke medan. wujud yang digambarkan foto dicocokkan dengan wujud sebenarnya di medan/lapangan.
v  TAHAPAN PENGOLAHAN
Langkah-langkah umum yang dilakukan untuk memperoleh data penginderaan jauh agar dapat dimanfaatkan oleh berbagai bidang adalah :
1.  Deteksi
Pada tahap ini dilakukan kegiatan mendeteksi obyek yang terekam pada foto udara maupun foto satelit
2.  Identifikasi
Mengidentifikai obyek berdasarkan ciri-ciri spektral, spasial dan temporal.
3.  Pengenalan
Pengenalan obyek yang dilakukan dengan tujuan untuk mengklasifikasikan obyek yang tampak pada citra berdasarkan pengetahuan tertentu
4.  Analisis
Analisis bertujuan untuk mengelompokkan obyek yang mempunyai ciri-ciri yang sama


5.  Deduksi
Merupakan kegiatan pemrosesan citra berdasarkan obyek yang terdapat pada citra ke arah yang lebih khusus.
6.  Klasifikasi
Meliputi deskripsi dan pembatasan (deliniasi) dari obyek yang terdapat pada citra
7.  Idealisasi
Penyajian data hasil interpretasi citra ke dalam bentuk peta yang siap pakai.

v  LAYOUT
Layout penginderaan jauh untuk hasil akhirnya berupa peta data spasial yang diperoleh. Penyajian layout peta dilakukan untuk memudahkan dalam membaca informasi spasial yang dihasilkan dari tahapan pengolahan data penginderaan jauh.












DAFTAR PUSTAKA
KAWASAN PERMUKIMAN DI KOTA SEMARANG. Diunduh pada Senin, 12 November 2012.
http://geoenviron.blogspot.com/2012/04/penginderaan-jauh.html. Penginderaan Jauh. Diunduh pada Selasa, 13 November 2012.
http://bub-e.blogspot.com/2012/08/metode-penginderaan-jauh.html . Metode Penginderaan Jauh. Diunduh pada Selasa, 13 November 2012.

No comments:

Post a Comment