Pertambahan jumlah penduduk dan tingkat perekonominan masyarakat dari tahun
ke tahun semakin menambah kebutuhan masyarakat terhadap kebutuhan rumah. Pemanfaatan
lahan - lahan produktif dan lahan kosong
sangat dibutuhkan pengembang (developer) dalam mengembangkan permukiman. Hal ini dilakukan karena lahan di tengah kota sudah tidak
ada tempat yang ideal dari sisi ekonomi. Untuk itu diperlukan data dasar
mengenai luas lahan yang telah berubah peruntukannya menjadi permukiman
sehingga didapatkan perencanaan yang berkesinambungan. Data dasar yang
digunakan pada penelitian ini berupa data spatial dan data tabular.
Data spasial berupa
gambar citra berperan penting dalam analisis kawasan perkotaan dan permukiman
pada masa sekarang karena melaui citra yang dihasilkan oleh teknologi
penginderaan jauh, karena kemajuan teknologi mendukung diperolehnya data yang
mempunyai tingkat kedetailan yang tinggi. Peningkatan penggunaannya dikarenakan
citra dapat menggambarkan obyek, daerah, dan gejala di permukaan bumi. Bentuk
dan letak obyek relative lengkap, dapat meliput daerah luas, dan bersifat
permanen. Sehingga citra merupakan alat yang baik sekali untuk pembuatan peta,
baik sebagai sumber data maupun sebagai kerangka letak. Citra dapat pula
berfungsi sebagai model medan. Berbeda dengan peta yang merupakan model
simbolik dan formula matematik yang merupakan model analog, citra (terutama
foto udara) merupakan model ikonik karena ujud gambarnya mirip dengan obyek
yang sebenarnya.
Citra penginderaan jauh
(satelit) mempunyai resolusi spasial dan resolusi temporal yang tinggi, sangat
tepat digunakan untuk kajian kawasan permukiman yang mengalami perkembangan
sangat cepat, dan perkembangan permukiman.
v METODE PENGINDERAAN JAUH
Dalam metode penginderaan jauh menurut
Roscoe (1960) dalam Sutanto (1992), terdapat 6 tahapan
yaitu ;
1. Merumuskan
Masalah dan Tujuan dalam Metode Penginderaan Jauh
Perumusan tujuan dimulai dengan
perumusan masalah secara jelas. Masalah dapat berupa sesuatu yang aneh yang
tidak pada tempatnya atau tidak biasa terjadi, sesuatu yang kurang jelas,
sesuatu yang menimbulkan tantangan. Misalnya pemotretan bagi sebagian wilayah
Indonesia yang hampir selalu tertutup oleh awan (Tejoyuwono, 1982 dalam
Sutanto, 1992:83).
2. Cara
Mengevaluasi Kemampuan dalam Metode Penginderaan Jauh
Setelah masalah dan tujuan dirumuskan
dengan jelas, barulah dilakukan penilaian terhadap kemampuan pelaksanaannya
yang menyangkut tentang kemampuan pelaksanaan dan timnya,
alat, perlengkapan, dana dan waktu yang tersedia. Antara kemampuan dan tujuan
yang ingin dicapai harus sesuai.
3. Pemilihan Cara Kerja dalam Metode
Penginderaan Jauh
Agar dapat dilakukan pemilihan cara
kerja yang baik, perlu diketahui tentang perencanaan penggunaan lahan dan apa
pula tugasnya.
4. Hal-hal yang Perlu Dilakukan dalam
Tahap Persiapan Metode Penginderaan Jauh
Menurut Sutanto (1992:87-92) menyatakan
dalam tahap persiapan metode penginderaan jauh ada empat, yakni sebagai
berikut:
a) Menyiapkan data acuan, data acuan
adalah data yang bukan berasal dari penginderaan jauh, akan tetapi data
tersebut diperlukan dalam interpretasi citra.
b) Menyiapkan data penginderaan jauh, Data
pengideraan jauh adalah hasil perekaman obyek dengan menggunakan sensor buatan.
c) Menyiapkan mosaik, mosaik foto adalah
serangkaian foto daerah tertentu yang disusun menjadi satu lembar foto.
d) Orientasi medan, pekerjaan ini dilakukan dengan membawa
foto ke medan. wujud yang digambarkan foto dicocokkan dengan wujud sebenarnya
di medan/lapangan.
v TAHAPAN PENGOLAHAN
Langkah-langkah umum yang dilakukan untuk memperoleh data
penginderaan jauh agar dapat dimanfaatkan oleh berbagai bidang adalah :
1. Deteksi
Pada tahap ini
dilakukan kegiatan mendeteksi obyek yang terekam pada foto udara maupun foto satelit
2.
Identifikasi
Mengidentifikai
obyek berdasarkan ciri-ciri spektral, spasial dan temporal.
3. Pengenalan
Pengenalan obyek
yang dilakukan dengan tujuan untuk mengklasifikasikan obyek yang tampak pada
citra berdasarkan pengetahuan tertentu
4. Analisis
Analisis bertujuan
untuk mengelompokkan obyek yang mempunyai ciri-ciri yang sama
5. Deduksi
Merupakan kegiatan
pemrosesan citra berdasarkan obyek yang terdapat pada citra ke arah yang lebih
khusus.
6.
Klasifikasi
Meliputi deskripsi
dan pembatasan (deliniasi) dari obyek yang terdapat pada citra
7. Idealisasi
Penyajian data
hasil interpretasi citra ke dalam bentuk peta yang siap pakai.
v LAYOUT
Layout
penginderaan jauh untuk hasil akhirnya berupa peta data spasial yang diperoleh.
Penyajian layout peta dilakukan untuk memudahkan dalam membaca informasi
spasial yang dihasilkan dari tahapan pengolahan data penginderaan jauh.
DAFTAR
PUSTAKA
http://publikasiilmiah.ums.ac.id:8080/xmlui/bitstream/handle/123456789/1271/FG%2004.pdf?sequence=1
. PENGGUNAAN CITRA SATELIT UNTUK KAJIAN
PERKEMBANGAN
KAWASAN
PERMUKIMAN DI KOTA SEMARANG. Diunduh pada Senin, 12
November 2012.
http://geoenviron.blogspot.com/2012/04/penginderaan-jauh.html.
Penginderaan Jauh. Diunduh pada Selasa, 13 November 2012.
http://bub-e.blogspot.com/2012/08/metode-penginderaan-jauh.html
. Metode Penginderaan Jauh. Diunduh pada Selasa, 13 November 2012.

No comments:
Post a Comment