Pages

ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR Myspace Falling Objects @ JellyMuffin.com ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR Myspace Layouts

Friday, December 21, 2012

[PDC-Review] Interpretasi Citra Untuk Perubahan Penggunaan Lahan


   Kondisi lahan dari tahun ke tahun selalu berubah seiring juga dengan penggunaannya. Perubahan penggunaan lahan erat kaitannya dengan pencanangan pembangunan dan perkembangan suatu wilayah sebab lahan tersebut harusnya digunakan sesuai fungsi aslinya. Penggunaan lahan merupakan hasil akhir dari setiap bentuk campur tangan kegiatan (intervensi) manusia terhadap lahan di permukaan bumi yang bersifat dinamis dan berfungsi untuk memenuhi kebutuhan hidup baik material maupun spiritual (Arsyad, 1989). Secara umum penggunaan lahan di Indonesia merupakan akibat nyata dari suatu proses yang lama dari adanya interaksi yang tetap, adanya keseimbangan, serta  keadaan dinamis antara aktifitas-aktifitas penduduk diatas lahan dan keterbatasan-keterbatasan di dalam lingkungan tempat hidup (As-syakur dkk., 2010). Penggunaan lahan berkaitan erat dengan ketersediaan lahan dan air. Ketersediaan lahan Perubahan Penggunaan Lahan Di Provinsi Bali dan air akan menentukan produktivitas sumberdaya yang mampu diproduksi, selain itu juga mampu memberikan data tentang potensi produksinya.
Analisis dapat dilakukan melalui interpretasi citra. Interpretasi citra merupakan suatu kegiatan untuk menentukan bentuk dan sifat obyek yang tampak pada citra, berikut deskripsinya.interpretasi citra dan fotogrametri berhubungan erat, meskipun keduanya tidak sama. Bedanya, fotogrametri berkepentingan dengan geometri obyek, sedangkan interpretasi citra berurusan dengan manfaat, penggunaan, asal-usul, ataupun identitas obyek yang bersangkutan (Glossary of the Mapping Science, 1994).

v     METODE PENGINDERAAN JAUH
Dalam metode penginderaan jauh menurut Roscoe (1960)  dalam Sutanto (1992),  terdapat 6 tahapan yaitu ;
1.  Merumuskan Masalah dan Tujuan dalam Metode Penginderaan Jauh
    Perumusan tujuan dimulai dengan perumusan masalah secara jelas. Masalah dapat berupa sesuatu yang aneh yang tidak pada tempatnya atau tidak biasa terjadi, sesuatu yang kurang jelas, sesuatu yang menimbulkan tantangan. Misalnya pemotretan bagi sebagian wilayah Indonesia yang hampir selalu tertutup oleh awan (Tejoyuwono, 1982 dalam Sutanto, 1992:83).
2.   Cara Mengevaluasi Kemampuan dalam Metode Penginderaan Jauh
     Setelah masalah dan tujuan dirumuskan dengan jelas, barulah dilakukan penilaian terhadap kemampuan pelaksanaannya yang menyangkut tentang kemampuan pelaksanaan dan timnya, alat, perlengkapan, dana dan waktu yang tersedia. Antara kemampuan dan tujuan yang ingin dicapai harus sesuai.
3.    Pemilihan Cara Kerja dalam Metode Penginderaan Jauh
Agar dapat dilakukan pemilihan cara kerja yang baik, perlu diketahui tentang perencanaan penggunaan lahan dan apa pula tugasnya.
4.    Hal-hal yang Perlu Dilakukan dalam Tahap Persiapan Metode Penginderaan Jauh
Menurut Sutanto (1992:87-92) menyatakan dalam tahap persiapan metode penginderaan jauh ada empat, yakni sebagai berikut:
a)        Menyiapkan data acuan, data acuan adalah data yang bukan berasal dari penginderaan jauh, akan tetapi data tersebut diperlukan dalam interpretasi citra.
b)        Menyiapkan data penginderaan jauh, Data pengideraan jauh adalah hasil perekaman obyek dengan menggunakan sensor buatan.
c)        Menyiapkan mosaik, mosaik foto adalah serangkaian foto daerah tertentu yang disusun menjadi satu lembar foto.
d)       Orientasi medan, pekerjaan ini dilakukan dengan membawa foto ke medan. wujud yang digambarkan foto dicocokkan dengan wujud sebenarnya di medan/lapangan.
v     TAHAPAN PENGOLAHAN
Langkah-langkah umum yang dilakukan untuk memperoleh data penginderaan jauh agar dapat dimanfaatkan oleh berbagai bidang adalah :
1.  Deteksi
Pada tahap ini dilakukan kegiatan mendeteksi obyek yang terekam pada foto udara maupun foto satelit
2.  Identifikasi
Mengidentifikai obyek berdasarkan ciri-ciri spektral, spasial dan temporal.

3.  Pengenalan
Pengenalan obyek yang dilakukan dengan tujuan untuk mengklasifikasikan obyek yang tampak pada citra berdasarkan pengetahuan tertentu
4.  Analisis
Analisis bertujuan untuk mengelompokkan obyek yang mempunyai ciri-ciri yang sama
5.  Deduksi
Merupakan kegiatan pemrosesan citra berdasarkan obyek yang terdapat pada citra ke arah yang lebih khusus.
6.  Klasifikasi
Meliputi deskripsi dan pembatasan (deliniasi) dari obyek yang terdapat pada citra
7.  Idealisasi
Penyajian data hasil interpretasi citra ke dalam bentuk peta yang siap pakai.



DAFTAR PUSTAKA
http://publikasiilmiah.ums.ac.id:8080/xmlui/bitstream/handle/123456789/1271/FG%2004.pdf?sequence=1 . PENGGUNAAN CITRA SATELIT UNTUK KAJIAN PERKEMBANGAN KAWASAN PERMUKIMAN DI KOTA SEMARANG. Diunduh pada Senin, 12 November 2012.
http://geoenviron.blogspot.com/2012/04/penginderaan-jauh.html. Penginderaan Jauh. Diunduh pada Selasa, 13 November 2012.
http://bub-e.blogspot.com/2012/08/metode-penginderaan-jauh.html . Metode Penginderaan Jauh. Diunduh pada Selasa, 13 November 2012.
http://pplh.unud.ac.id/wp-content/uploads/2012/02/Perubahan-Penggunaan-Lahan-Di-Provinsi-Bali.pdf. Perubahan Penggunaan Lahan di Provinsi Bali. Diunduh pada 26 November 2012.


No comments:

Post a Comment