Pages

ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR Myspace Falling Objects @ JellyMuffin.com ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR Myspace Layouts

Friday, December 21, 2012

Analok-Review- 02


REVIEW LITERATUR
LOKASI & POLA RUANG
“TEORI VON THUNEN”
Dosen Pengampu :
Dra. Bitta Pigawati, MT

Disusun Oleh:
NUNGKY APRIDANINGTYAS
21040111060019

Program Studi Diploma III
Perencanaan Wilayah dan Kota - Fakultas Teknik
Universitas Diponegoro
Semarang
2012


A.    Pendahuluan
Teori ini berkembang pada mulanya diawali oleh analisis lokasi areal produksi pertanian  atau selama ini dikenal sebagai Teori Lokasi von Thunen, ditulis oleh Joann Heinrich von Thunen, seorang ekonom Jerman pada tahun 1826 dengan karya tulisnya berjudul Der isolierte Staat (The Isolated State atau Negara yang Terisolasi. Karya ini merupakan tonggak penting mengenai konsep tata uang wilayah. Dalam karyanya von Thunen mengilustrasikan suatu perumpamaan negeri terisolasi, dengan iklim dan tanah seragam, topografi seragam dan datar, serta alat transportasi yang seragam dan hanya dilayani oleh kereta yang ditarik oleh hewan atau ternak.
B.     Review Literatur
Von Thunen dalam bukunya menguraikan teori sewa lahan diferensial. Inti pembahasan von Thunen adalah mengenai lokasi dan spesialisasi pertanian berdasarkan asumsi-asumsi yang digunakan, yaitu:
a.       Wilayah model yang terisolasikan adalah bebas dari pengaruh pasar kota-kota lain
b.      Wilayah model membentuk tipe permukiman perkampungan dimana kebanyakan keluarga petani hidup pada tempat-tempat yang terpusat dan bukan tersebar di seluruh wilayah,
c.       Wilayah model memiliki iklim, tanah, topografi yang seragan ayau uniform(produktivitas secara fisik adalah sama)
d.      Wilayah model memiliki fasilitas transportasi tradisional yang relative seragam
e.       Faktor-faktor alamiah yang memoengaruhi penggunaan lahan merupakan hasil persaingan antara berbagai jenis penggunaan lahan.
Teori Von Thunen ini dapat digunakan sebagai dasar pendekatan pengembangan wilayah kawasan perbatasan, khususnya melalui pengembangan transportasi. Wilayah kawasan perbatasan di Indonesia umumnya merupakan wilayah yang memiliki jarak paling jauh dari pusat kota dan berfungsi sebagai penyedia bahan baku. Berdasarkan teori ini, kegiatan ekonomi/produksi yang paling cocok untuk wilayah ini adalah kegiatan ekonomi/produksi komoditas yang paling efisien (dihitung menurut besaran biaya produksi dan biaya transportasi) jika berada di dekat penyedia bahan baku dan jauh dari market (pusat kota). Contohnya seperti kegiatan produksi komoditas ekstraktif (barang tambang) dan peternakan. Pengembangan transportasi untuk mendukung kegiatan ekonomi/produksi ini adalah dengan membangun infrastruktur transportasi yang menghubungkan antara penyedia bahan baku dengan market (pusat kota).
Menurut Von Thunen guna lahan kota dipengaruhi oleh biaya produksi, biaya transportasi dan daya tahan hasil komoditi. Sehingga berpengaruh terhadap munculnya pasar lahan yang kompetitif. Pada model Von Thunen hubungan antara transportasi dan lokasi aktivitas terletak pada biaya transportasi dan biaya sewa lahan. Guna lahan akan menentukan nilai lahan, melalui kompetisi antara pemakai lahan. Karenanya nilai lahan akan mendistribusikan guna lahan menurut kemampuan untuk membayar sewa lahan, sehingga akan menimbulkan pasar lahan yang kompetitif. Faktor lain yang menentukan tinggi rendahnya nilai lahan adalah jarak terhadap pusat kota. Melalui adanya nilai lahan maka terbentuk zona-zona pemakaian lahan seperti lahan untuk kegiatan industri, kegiatan komersil, kegiatan industri, serta lahan untuk kegiatan pemerintahan. Selain memiliki pengaruh terhadap zona lahan, teori Von Thunen juga berpengaruh terhadap struktur keruangan kota. Perkembangan kota yang didasarkan terhadap penggunaan lahan kota memunculkan elemen-elemen baru dalam struktur keruangan kota. Salah satu contohnya adalah struktur kota di Indonesia, terdapat elemen-elemen baru dari struktur keruangan yang muncul seperti zona pelabuhan, kawasan pemerintahan, kawasan perdagangan dan lain sebagainya. Munculnya elemen-elemen baru tersebut terjadi tidak lepas dari pengaruh sejarah kota atau negara tersebut.

Aglomerasi sebagai bentuk implikasi Teori Von Thunen pada struktur ruang kota yaitu penggunaan tanah di perkotaan tidak lagi berbentuk cincin tetapi tetap terlihat adanya kecenderungan pengelompokan untuk penggunaan yang sama berupa kantong-kantong, di samping adanya penggunaan berupa campuran-campuran antara berbagai kegiatan.
C.    Kesimpulan
Von Thunen menentukan hubungan sewa lahan dengan jarak ke pasar dengan menggunakan kurva permintaan. Berdasarkan perbandingan (selisih) antara harga jual dengan biaya produksi, masing-masing jenis produksi memiliki kemampuan yang berbeda untuk membayar sewa lahan. Makin tinggi kemampuannya untuk membayar sewa lahan, makin besar kemungkinan kegiatan itu berlokasi dekat ke pusat pasar. Hasilnya adalah suatu pola penggunaan lahan berupa diagram cincin. Perkembangan dari teori Von Thunen adalah selain harga lahan tinggi di pusat kota dan akan makin menurun apabila makin jauh dari pusat kota.





Daftar Pustaka
Adisasmita, Raharjo. 2008. Pengembangan Wilayah, Konsep dan Teori. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Rustiadi, Ernan dkk. 2009. Perencanaan dan  Pengembangan Wilayah. Buku Obor. Jakarta.  

No comments:

Post a Comment