Pages

ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR Myspace Falling Objects @ JellyMuffin.com ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR Myspace Layouts

Friday, December 21, 2012

[Analok-Review] Teori Christaller


Walter Christaller (1933) dengan model tempat sentral (central lace model) mengemukakan bahwa tanah yang positif adalah tanah yang mendukung pusat kota. Pusat kota tersebut ada karena untuk berbagai jasa penting harus disediakan tanah/lingkungan sekitar. Secara ideal maka kota merupakan pusat daerah yang produktif. Dengan demikian apa yang disebut tempat sentral adalah pusat kota. Berdasarkan prinsip aglomerasi (scale economics atau ekonomi skala menuju efisiensi atau kedekatan menuju sesuatu), ekonomi kota besar menjadi pusat daerahnya sendiri dan pusat kegiatan kota yang lebih kecil. Artinya, kota kecil bergantung pada tersedianya dan adanya kegiatan yang ada pada kota besar. 
Asumsi-asumsi dalam penyusunan teori oleh Christaller:
  1. Konsumen menanggung ongkos angkutan, maka jarak ke tempat pusat dinyatakan dalam biaya dan waktu.
  2. Jangkauan (range) suatu barang ditentukan oleh jarak yang dinyatakan dalam biaya dan waktu.
  3. Konsumen memilih tempat pusat yang paling dekat untuk mendapatkan barang dan jasa.
  4. Kota-kota berfungsi sebagai tempat pusat bagi wilayah sekitarnya.
  5. Wilayah tersebut adalah dataran yang rata, mempunyai cirri-ciri ekonomis sama dan penduduknya juga tersebar secara merata.


Christaller mengembangkan modelnya untuk suatu wilayah abstrak dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1. Wilayahnya adalah dataran tanpa roman, semua adalah datar dan sama.
2. Gerakan dapat dilaksanakan ke segala arah (isotropis surface)
3. Penduduk memiliki daya beli yang sama dan tyersebar secara merata pada seluruh wilayah.
4. Konsumen bertindak rasional sesuai dengan prinsip minimisasi jarak/biaya.

Teori Christaller didasarkan pada konsep range (jangkauan) dan threshold (ambang). Range (jangkauan) adalah jarak tempuh yang diperlukan untuk mendapatkan barang yang dibutuhkan masyarakat, sedangkan threshold (ambang) adalah jumlah minimal anggota masyarakat yang diperlukan untuk menjaga keseimbangan suplai barang. Menurut teori ini, tempat yang sentral secara hierarki dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:
  1. Tempat sentral yang berhirarki 3 (K = 3), merupakan pusat pelayanan berupa pasar yang senantiasa menyediakan barang-barang bagi daerah sekitarnya, atau disebut juga kasus pasar optimal.
  2. Tempat sentral yang berhierarki 4 (K = 4), merupakan situasi lalu lintas yang optimum. Artinya, daerah tersebut dan daerah sekitarnya yang terpengaruh tempat sentral itu senantiasa memberikan kemungkinan jalur lalu lintas yang paling efisien.
  3. Tempat sentral yang berhierarki 7 (K = 7), merupakan situasi administratif yang optimum. Artinya, tempat sentral ini mempengaruhi seluruh bagian wilayah-wilayah tetangganya.
Sehingga diperoleh model Christaller tentang terjadinya model area perdagangan heksagonal, yaitu :
1. Mula-mula terbentuk areal perdagangan satu komoditas berupa lingkaran-lingkaran. Setiap lingkaran memiliki lingkaran pusat dan menggambarkan threshold komoditas tersebut. Lingkaran-lingkaran ini tidak tumpang tindih
2. Lingkaran-lingkaran berupa range dari komoditas tersebut kemudian boleh tumpang tindih.
3. Range yang tumpang tindih dibagi antara kedua pusat yang berdekatan sehingga terbentuk areal heksagonal yang menutupi seluruh dataran yang tidak lagi tumpang tindih.
4. Tiap barang berdasarkan ordenya memiliki heksagonal sendiri.
Berdasarkan modek k=3, pusat dan hierarki yang lebih rendah berada pada sudut dan hierarki yang lebih tinggi sehingga pusat yang lebih rendah berada pada pengaruh dari tiga hierarki yang lebih tinggi lainnya. Christaller melihat ini tidak realisistis sehingga dia menggunakan model k=7 di mana pusat dari beberapa wilayah yang lebih rendah berada pada heksagonal pusat yang lebih tinggi. Walaupun heksagonalnya hanya menggambarkan wilayah pemasaran dari barang dengan orde yang berbeda namun Christaller mengaitkan teorinya dengan susunan orde perkotaan. Semakin rendah orde barang yang tersedia maka orde kotanya juga makin rendah.
Dalam dunia nyata threshold secara ruang dapat menyusut menjadi lebih separonya karena kepadatan penduduk yang cukup tinggi di pusat kota dan makin rendah apabila makin jauh dari pusat kota. Hal ini berarti apabila pengusaha menambah jenis barang yang dijual, ia memperkecil threshold dari usahanya. Akan tetapi, hal ini hanya berlaku pada sampai batas tertentu. Hal ini juga dapat menjelaskan mengapa di kota terdapat banyak pedagang yang menjual barang dari berbagai jenis dan memilih berlokasi berdekatan di pasar bukan menyebar.
Kesimpulan yang dapat diambil dari teori ini adalah Teori Christaller menjelaskan bagaimana susunan dari besaran kota, jumlah kota, dan distribusinya di dalam satu wilayah. Model Christaller ini merupakan suatu sistem geometri, di mana angka 3 yang diterapkan secara arbiter memiliki peran yang sangat berarti dan model ini disebut sistem K = 3. Model Christaller menjelaskan model area perdagangan heksagonal dengan menggunakan jangkauan atau luas pasar dari setiap komoditi yang dinamakan range dan threshold.
















DAFTAR PUSTAKA

No comments:

Post a Comment