Pages

ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR Myspace Falling Objects @ JellyMuffin.com ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR Myspace Layouts

Friday, December 21, 2012

[PDC-Review] INTEGRASI PENGINDERAAN JAUH DENGAN SIG


Pada masa kini kebutuhan informasi geografi makin nyata dalam negara yang sedang membangun seperti Indonesia, termasuk kegunaanya untuk pendidikan geografi dari sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Di satu sisi, diyakini bahwa informasi geografi sangat penting dalam menunjukan sumberdaya alam dan fenomena spasial, tetapi di lain pihak, informasi geografi tersebut belum diperoleh, diselenggarakan dan dikelola sebagaimana mestinya dalam pengelolaan muka bumi, karena belum menjadi prioritas dalam sistem pengelolaannya. Produk-produk perundang-undangan terkait basisdata yang telah diterbitkan oleh pemerintah RI (PP 10/2000 tentang ketelitian peta tematik pendukung tata ruang; Perpres 85/2007 tentang JDSN; dan RUU Tata Informasi Geografi), jelas memposisikan informasi geografi sebagai substansi yang sangat vital dalam penyelenggaraan negara NKRI, dan juga untuk menunjang pendidikan kebumian.
Dalam kegunaannya, system informasi geografis berintegrasi dengan penginderaan jauh yang semakin berkembang dalam hal teknik dan aplikasinya, termasuk aplikasinya di bidang geografi, sumberdaya, lingkungan, pengembangan wilayah, kajian sumberdaya alam dan mitigasi bencana alam. Perkembangan satelit di negara berkembang semakin maju, termasuk di Thailand, Indonesia dan India. Amerika sebagai super power teknologi ini, telah pula meluncurkan satelit yang menyajikan ukuran pixel detil, 0,41m, dengan nama GeoEye-1. Indonesia telah meluncurkan TUBSAT pada tahun 2007, bekerjasama dengan Jerman dan India.

[PDC-Review] INTERPRETASI CITRA UNTUK KAWASAN PERKOTAAN & PERMUKIMAN


Pertambahan jumlah penduduk dan tingkat perekonominan masyarakat dari tahun ke tahun semakin menambah kebutuhan masyarakat terhadap kebutuhan rumah. Pemanfaatan lahan - lahan  produktif dan lahan kosong sangat dibutuhkan pengembang (developer) dalam mengembangkan permukiman. Hal ini dilakukan karena lahan di tengah kota sudah tidak ada tempat yang ideal dari sisi ekonomi. Untuk itu diperlukan data dasar mengenai luas lahan yang telah berubah peruntukannya menjadi permukiman sehingga didapatkan perencanaan yang berkesinambungan. Data dasar yang digunakan pada penelitian ini berupa data spatial dan data tabular.
Data spasial berupa gambar citra berperan penting dalam analisis kawasan perkotaan dan permukiman pada masa sekarang karena melaui citra yang dihasilkan oleh teknologi penginderaan jauh, karena kemajuan teknologi mendukung diperolehnya data yang mempunyai tingkat kedetailan yang tinggi. Peningkatan penggunaannya dikarenakan citra dapat menggambarkan obyek, daerah, dan gejala di permukaan bumi. Bentuk dan letak obyek relative lengkap, dapat meliput daerah luas, dan bersifat permanen. Sehingga citra merupakan alat yang baik sekali untuk pembuatan peta, baik sebagai sumber data maupun sebagai kerangka letak. Citra dapat pula berfungsi sebagai model medan. Berbeda dengan peta yang merupakan model simbolik dan formula matematik yang merupakan model analog, citra (terutama foto udara) merupakan model ikonik karena ujud gambarnya mirip dengan obyek yang sebenarnya.
Citra penginderaan jauh (satelit) mempunyai resolusi spasial dan resolusi temporal yang tinggi, sangat tepat digunakan untuk kajian kawasan permukiman yang mengalami perkembangan sangat cepat, dan perkembangan permukiman.

[PDC-Review] Interpretasi Citra Untuk Perubahan Penggunaan Lahan


   Kondisi lahan dari tahun ke tahun selalu berubah seiring juga dengan penggunaannya. Perubahan penggunaan lahan erat kaitannya dengan pencanangan pembangunan dan perkembangan suatu wilayah sebab lahan tersebut harusnya digunakan sesuai fungsi aslinya. Penggunaan lahan merupakan hasil akhir dari setiap bentuk campur tangan kegiatan (intervensi) manusia terhadap lahan di permukaan bumi yang bersifat dinamis dan berfungsi untuk memenuhi kebutuhan hidup baik material maupun spiritual (Arsyad, 1989). Secara umum penggunaan lahan di Indonesia merupakan akibat nyata dari suatu proses yang lama dari adanya interaksi yang tetap, adanya keseimbangan, serta  keadaan dinamis antara aktifitas-aktifitas penduduk diatas lahan dan keterbatasan-keterbatasan di dalam lingkungan tempat hidup (As-syakur dkk., 2010). Penggunaan lahan berkaitan erat dengan ketersediaan lahan dan air. Ketersediaan lahan Perubahan Penggunaan Lahan Di Provinsi Bali dan air akan menentukan produktivitas sumberdaya yang mampu diproduksi, selain itu juga mampu memberikan data tentang potensi produksinya.
Analisis dapat dilakukan melalui interpretasi citra. Interpretasi citra merupakan suatu kegiatan untuk menentukan bentuk dan sifat obyek yang tampak pada citra, berikut deskripsinya.interpretasi citra dan fotogrametri berhubungan erat, meskipun keduanya tidak sama. Bedanya, fotogrametri berkepentingan dengan geometri obyek, sedangkan interpretasi citra berurusan dengan manfaat, penggunaan, asal-usul, ataupun identitas obyek yang bersangkutan (Glossary of the Mapping Science, 1994).

[PDC-Review] Spesifikasi Citra


Dalam penginderaan jauh atau remote sensing, tentunya menggunakan berbagai gambar citra dari berbagai satelit-satelit penginderaan jauh. Dalam penginderaan jauh dikenal beberapa satelit untuk proses penginderaan jauh antara lain :
·         Landsat
·         IKONOS
·         QuickBird
·         NOAA
·         IRS
·         METEOSAT-5
·         SPOT
·         EO-1, dll
Dari berbagai satelit yang digunakan diatas tentunya memiliki karakteristik dan spesifikasi yang berbeda. Kelebihan dan kekurangan pada suatu citra akan menentukan pilihan bagi pengguna sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan. Berikut merupakan spesifikasi dari beberapa citra.

[PDC-Review] Highpass Filtering & Klasifikasi Citra


A.     Highpass Filter
High pass filter adalah proses filter yang mengambil citra dengan gradiasi intensitas  yang tinggi dan perbedaan intensitas yang rendah akan dikurangi atau dibuang. Highfilter akan memperkuat komponen yang berfrekuensi tinggi dan menurunkan komponen berfrekuensi rendah. Penajaman citra lebih berpengaruh (edge) suatu objek, maka image sharpening sering disebut sebagai penajaman tepi(edge sharpening). Highpass filtering koefisien-koefisien filternya bisa bernilai positip, nol, atau negatif. Sedangkan jumlah koefisiennya adalah 0 atau 1. Apabila jumlah koefisien =  0, maka komponen berfrekuensi rendah akan turun nilainya, sedangkan apabila jumlah koefisien sama dengan 1, maka komponen berfrekuensi rendah akan tetap sama dengan nilai semula. Komponen citra yang berfrekuensi tinggi akan diloloskan dan komponen yang mempunyai frekuensi rendah akan ditahan.

[PDC-Review] Penajaman Kontras & Klasifikasi Citra


Penajaman kontras diterapkan untuk memperoleh kesan citra yang tinggi. Hal ini dapat dilakukan dengan mentransformasi seluruh nilai kecerahan. Hasilnya berupa nilai citra dengan nilai kecerahan maksimum baru yang lebih tinggi dari nilai maksimum awal, dan nilai minimum baru yang (pada umumnya) lebih rendah dari nilai minimum awal.
Histogram citra adalah suatu grafik yang menyatakan hubungan antara BV (brightness value) dengan frekuensi. Dari histogram pada suatu citra yang ada kita dapat menentukan berapa buah objek yang terdapat pada citra tersebut. Satu kurva sempurna mencerminkan satu buah objek. Jadi semakin banyak kurva yang terdapat pada suatu histogram maka semakin bervariasi pula objek pada citra tersebut. Untuk tiap band yang berbeda pada satu citra, memiliki histogram dengan bentuk kurva yang berbeda-beda pula.
Untuk penajaman citra sendiri meliputi semua operasi yang menghasilkan citra baru dengan kenampakan visual dan karakteristik visual yang berbeda (Projo, 1996). Citra baru disini maksudnya aadalah citra dengan kenampakan yang lebih bagus dibanding dengan citra aslinya.
Penajaman kontras (image enchancement) meliputi seluruh operasi untuk menghasilkan citra baru dengan kenampakan visual dan karakteristik spektral yang berbeda. Penajaman kontras dilakukan untuk membuat citra memiliki kesan kontras yang lebih tinggi dari citra awal. Penajaman citra dilakukan dengan mentransformasikan nilai piksel, maka akan terbentuk nilai piksel maksmimum yang lebih tinggi dari nilai maksimum awal dan umumnya nilai minimumnya lebih rendah dari nilai minimum awal.

[PDC-Review] Metode Penginderaan Jauh & Interpretasi Citra


Penginderaan Jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang obyek, daerah, atau gejala dengan jalan menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap obyek, daerah, atau gejala yang dikaji (Lillesand and Kiefer, 1979). Sedang menurut Lindgren, Penginderaan jauh ialah berbagai teknik yang dikembangkan untuk perolehan dan analisis informasi tentang bumi. Informasi tersebut khusus berbentuk radiasi elektromagnetik yang dipantulkan atau dipancarkan dari permukaan bumi.
Dalam pelaksanaannya, ada berbagai macam metode yang digunakan dalam penginderaan jauh, yaitu dikenal metode penginderaan jauh manual atau visual dan metode penginderaan jauh digital . Penginderaan jauh  manual memanfaatkan citra tercetak atau 'hardcopy ' (foto  udara , citra  hasil pemindaian scanner  di pesawat  udara maupun satelit ) melalui analisis dan interpretasi secara manual/visua]. Penginderaan jauh  digital  menggunakan citra dalam format digital, misalnya hasil pemotretan kamera  digital, hasil pemindaian foto udara yang sudha tercetak, dan hasil pemindaian oleh sensor satelit, dan menganalisisnya dengan bantuan komputer . Baik metode manual maupun digital menghasilkan peta dan laporan. Peta hasil metode manual dapat dikonversi menjadi peta tematik  digital melalui proses digitisasi  (sering diistilahkan digitasi). Metode manual kadangkala juga dilakukan dengan bantuan komputer, yaitu melalui proses interpretasi di layar monitor (on-screen digitisation ), yang langsung menurunkan peta  digital. Metode analisis citra digital menurunkan peta tematik  digital secara langsung. Peta -peta  digital tersebutd dapat di-'lay out' dan dicetak untuk menjadi produk kartografis  (disebut basis dat kartografis ), namun dapat pula menjaid masukan (input) dalam suatu sistem informasi geografis sebagai basis data geografis.

[PDC-Review] Sistem Penginderaan Jauh


Ø  Pengertian Penginderaan Jauh
Penginderaan jauh merupakan langkah untuk mendapatkan suatu informasi tentang suatu objek tanpa bersinggungan langsung melalui sebuah alat. Berikut beberapa pemahaman mengenai penginderaan jauh dari beberapa ahli :
a.      Penginderaan jauh adalah ilmu atau seni untuk memperoleh informasi tentang objek, daerah atau gejala, dengan jalan menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat, tanpa kontak langsung dengan objek, daerah atau gejala yang akan dikaji (Lillesand dan Kiefer, 1990).
b.      Penginderaan jauh merupakan upaya untuk memperoleh, menemutunjukkan (mengidentifikasi) dan menganalisis objek dengan sensor pada posisi pengamatan daerah kajian (Avery, 1985).
c.       Penginderaan jauh merupakan teknik yang dikembangkan untuk memperoleh dan menganalisis informasi tentang bumi. Informasi itu berbentuk radiasi elektromagnetik yang dipantulkan atau dipancarkan dari permukaan bumi (Lindgren, 1985).
Dari berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa penginderaan jauh merupakan upaya memperoleh informasi tentang objek dengan menggunakan alat yang disebut “sensor” (alat peraba), tanpa kontak langsung dengan objek.

[PDC-Review] Penginderaan Jauh


Ø  Pengertian Penginderaan Jauh
Penginderaan jauh merupakan langkah untuk mendapatkan suatu informasi tentang suatu objek tanpa bersinggungan langsung melalui sebuah alat. Berikut beberapa pemahaman mengenai penginderaan jauh dari beberapa ahli :
a.      Penginderaan jauh adalah ilmu atau seni untuk memperoleh informasi tentang objek, daerah atau gejala, dengan jalan menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat, tanpa kontak langsung dengan objek, daerah atau gejala yang akan dikaji (Lillesand dan Kiefer, 1990).
b.      Penginderaan jauh merupakan upaya untuk memperoleh, menemutunjukkan (mengidentifikasi) dan menganalisis objek dengan sensor pada posisi pengamatan daerah kajian (Avery, 1985).
c.       Penginderaan jauh merupakan teknik yang dikembangkan untuk memperoleh dan menganalisis informasi tentang bumi. Informasi itu berbentuk radiasi elektromagnetik yang dipantulkan atau dipancarkan dari permukaan bumi (Lindgren, 1985).

[Analok-Review] Zona Lahan dan Struktur Ruang Kota


Zona adalah kawasan atau area yang memiliki fungsi dan karakteristik lingkungan yang spesifik. zona adalah salah satu yang terpenting dalam merencanakan sebuah wilayah. Salah satunya zona lahan, dimana, zona lahan, memiliki tujuan untuk mempermudah jalanya pembangunan, karena telah di tetapkan pembagian-pembagian wilayah atau lahan yang akan di rencanakan atau di bangun dan dengan zona yang telah di bagi sesuai dengan fungsi lahan yang sudah ada atau yang telah di rencanakan, maka pembangunan akan menjadi lebih mudah.
Zona lahan sangat erat kaitannya dengan struktur ruang kota, dimana, rstruktur ruang kota adalah susunan pusat-pusat permukiman, sistem jaringan serta sistem prasarana maupun sarana. Semua hal itu berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial-ekonomi yang secara hirarki berhubungan fungsional. Adapun elemen-elemen yang membentuk struktur ruang kota (Sinulingga, 2005: 97, yaitu

[Analok-Review] Zona Lahan dan Struktur Ruang Kota


Zona adalah kawasan atau area yang memiliki fungsi dan karakteristik lingkungan yang spesifik. zona adalah salah satu yang terpenting dalam merencanakan sebuah wilayah. Salah satunya zona lahan, dimana, zona lahan, memiliki tujuan untuk mempermudah jalanya pembangunan, karena telah di tetapkan pembagian-pembagian wilayah atau lahan yang akan di rencanakan atau di bangun dan dengan zona yang telah di bagi sesuai dengan fungsi lahan yang sudah ada atau yang telah di rencanakan, maka pembangunan akan menjadi lebih mudah.
Zona lahan sangat erat kaitannya dengan struktur ruang kota, dimana, rstruktur ruang kota adalah susunan pusat-pusat permukiman, sistem jaringan serta sistem prasarana maupun sarana. Semua hal itu berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial-ekonomi yang secara hirarki berhubungan fungsional. Adapun elemen-elemen yang membentuk struktur ruang kota (Sinulingga, 2005: 97, yaitu

[Analok-Review] Zona Lahan dan Struktur Ruang Kota


Zona adalah kawasan atau area yang memiliki fungsi dan karakteristik lingkungan yang spesifik. zona adalah salah satu yang terpenting dalam merencanakan sebuah wilayah. Salah satunya zona lahan, dimana, zona lahan, memiliki tujuan untuk mempermudah jalanya pembangunan, karena telah di tetapkan pembagian-pembagian wilayah atau lahan yang akan di rencanakan atau di bangun dan dengan zona yang telah di bagi sesuai dengan fungsi lahan yang sudah ada atau yang telah di rencanakan, maka pembangunan akan menjadi lebih mudah.
Zona lahan sangat erat kaitannya dengan struktur ruang kota, dimana, rstruktur ruang kota adalah susunan pusat-pusat permukiman, sistem jaringan serta sistem prasarana maupun sarana. Semua hal itu berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial-ekonomi yang secara hirarki berhubungan fungsional. Adapun elemen-elemen yang membentuk struktur ruang kota (Sinulingga, 2005: 97, yaitu

[Analok-Review] Aplikasi SIG dalam Analisis Lokasi & Pola Ruang


Dalam penerapan ilmu Perencanaan Wilayah dan Kota, analisis Lokasi dan Pola Ruang sangatlah di butuhkan dalam merencanakan sebuah wilayah sangat dipengaruhi oleh bagaimana bentuk ruang dan pola sebuah wilayah. Analisis keruangan adalah analisis lokasi yang menitik beratkan pada tiga unsur jarak (distance), kaitan (interaction) dan gerakan (movement), tujuan dari analisis keruangan adalah untuk mengukur apakah kondisi yang ada sesuai sesuai dengan struktur keruangan, dan menganalisa interaksi antar unit keruangan yaitu hubungan antara ekonomi dan interaksi keruangan, aksesibilitas antara pusat dan perhentian suatu wilayah, dan hambatan interaksi, hal ini didasarkan oleh adanya tempat-tempat (kota) yang menjadi pusat kegiatan bagi tempat-tempat lain, serta adanya hirakri diantara tempat-tempat tersebut.
Dalam prosesnya, menentukan atau menganalisis lokasi dan pola ruang suatu kawasan memerlukan alat bantu untuk memudahkan. Salah satu alat yang bisa di gunakan adalah menggunakan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG). SIG merupakan sebuah alat bantu baik sebagai tools maupun bahan tutorial utama. Menurut Murai  dalam Muhammad (2009) mengartikan Sistem Informasi  Geografis (SIG) sebagai sistem informasi yang digunakan untuk memasukkan,  menyimpan, memanggil kembali, mengolah, menganalisis dan menghasilkan data  bereferensi geografis atau data geospatial, untuk mendukung pengambilan keputusan dalam perencanaan dan pengelolaan penggunaan lahan, sumber daya alam, lingkungan, transfortasi, fasilitas kota dan pelayanan umum lainnya.

[Analok-Review] Alokasi Lokasi Fasilitas


Dalam sebuah kota, terdapat sekelompok masyarakat yang tinggal dengan segala aktivitasnya. Aktivitas manusia semakin lama semakin berkembang, oleh karena itu dibutuhkan suatu fasilitas guna menunjang aktivitas manusia tersebut. Fasilitas adalah faktor atau hal-hal yang menunjang dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat. Fasilitas sangat berpengaruh karena terkait persebaran penggunaan lahan bagi pemukiman. Alokasi lokasi fasilitas bertujuan untuk melokasikan fasilitas pelayanan sedemikian rupa sehingga total biaya atau usaha penduduk untuk memperoleh pelayanan tersebut adalah minimal.
Fasilitas dibedakan atas dua jenis, yaitu fasilitas umum dan fasilitas sosial. Fasilitas umum berupa prasarana dasar seperti jalan, listrik, telepon, dan air, sedangkan fasilitas sosial misalnya rumah sakit, pendidikan, perumahan, dan peribadatan. Semua jenis fasilitas ini harus disediakan oleh pemerintah kota untuk menunjang kegiatan masyaraktnya. Namun, tentu saja semua fasilitas, baik itu pelayanan maupun aksesibiltas harus dapat dijangkau segala lapisan masyarakat.

[Analok-Review] Keterkaitan Lokasi & Pola Ruang dengan Transportasi



Sebuah sistem transportasi akan sangat mempengaruhi wilayah di sekitarnya. Transportasi berhubungan dengan perubahan kota, pemukiman, dan kegiatan ekonomi. Cabang ilmu geografi transportasia akan menjelaskan strategi-strategi transportasi untuk masing-masing kota.
Transportasi pada hakikatnya merupakan kegiatan pergerakan atau perpindahan barang dan manusia pada ruang dan suatu waktu melalui moda tertentu. Paul Mees (1995) berpendapat: kebijakan transportasi bukan sekedar masalah pemindahan barang dan manusia, akan tetapi transportasi juga berkaitan dengan pembentukan kota, dan akses bagi semua penduduk karena masih banyak yang tidak memiliki kendaraan pribadi.
Transportasi mempunyai dampak atas lokasi pasar maupun lokasi industry. Sesunguhnya, tarif memainkan peran yang cukup besar dalam lokasi pasaran. Tentunya dampak tarif tergantung pada hubungannya dengan marjin laba dan nilai akhir suatu barang. Kalau semua biaya produksi adalah sama untuk lokasi yang berbeda, kecuali kalau ada pengaruh transportasi, maka industri cenderung untuk melokasikan pabriknya diwilayah yang biaya transportasinya terendah.

[Analok-Review] Interaksi Keruangan


Analisis keruangan adalah analisis lokasi yang menitik beratkan pada tiga unsur jarak (distance), kaitan (interaction) dan gerakan (movement), tujuan dari analisis keruangan adalah untuk mengukur apakah kondisi yang ada sesuai sesuai dengan struktur keruangan, dan menganalisa interaksi antar unit keruangan yaitu hubungan antara ekonomi dan interaksi keruangan, aksesibilitas antara pusat dan perhentian suatu wilayah, dan hambatan interaksi, hal ini didasarkan oleh adanya tempat-tempat (kota) yang menjadi pusat kegiatan bagi tempat-tempat lain, serta adanya hirakri diantara tempat-tempat tersebut.
Analisis keruangan didasarkan pada keberadaan tempat-tempat (kota) yang menjadi pusat kegiatan bagi tempat-tempat lain, serta terdapatnya hirarki diantara tempat-tempat tersebut. Analisis keruangan mempelajari perbedaan lokasi mengenai sifat-sifat penting maupun seri sifat-sifat yang penting, dengan pertanyaan mengenai faktor-faktor yang menguasai pola persebaran dan bagaimana pola tersebut diubah agar penyebaran tersebut menjadi lebih efisien dan wajar. Dengan kata lain, dalam analisis keruangan yang harus diperhatikan adalah pertama, terkait penyebaran penggunaan ruang yang telah ada dan kedua, penyediaan ruang yang akan digunakan untuk berbagai kegunaan yang dirancangkan (Bintarto, 1982: 12).

[Analok-Review] Teori Lokasi Retail


Dengan berkembangannya dunia bisnis dan perdagangan di dunia Khususnya di Indonesia sendiri, menunjukkan peningkatan yang signifikan pada periode pasca krisis moneter yang terjadi pada tahun 1997 silam. Yang mana ini di tunjukkan dengan banyaknya jenis usaha yang diupayakanoleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Salh satunya dengan pesatnya perkembangan kegiatan jual beli barang maupun jasa dengan sistem eceran atau lebih di kenal dengan istilah bisnis eceran atau ritel.
Kata ritel berasal dari bahasa Prancis, ritellier, yang berarti memotog atau memecah sesuatu. Ritel atau eceran (retailing) dapat di pahami sebagai semua kegiatan yang terlibat dalam penjualan barang atau jasa secara langsung kepada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi dan bukan penggunaan bisnis. Sering kali orang-orang beranggapan bahwa ritel hanya menjual produk-produk di toko. Tetapi ritel juga melibatkan jasa layanan antar ke rumah-rumah.tidak semua ritel dilakukan di toko.

[Analok-Review] Teori Lokasi Industri


Industri merupakan kegiatan pengolahan yang mengubah bentuk benda menjadi sesuatu yang memiliki nilai dan kegunaan berbeda dan lebih besar. Dalam kegiatan industri terdapat pertimbangan-pertimbangan dalam menentukan skala operasi, maksudnya berapa jumlah yang dihasilkan dan pada tingkatan harga berapa produk akan dijual, teknik produksi yang diperlukan untuk melakukan inovasi mengkombinasikan tenaga kerja,modal,maupun mesin berteknologi yang digunakan dalam proses produksi. Serta lokasi pabrik yang menentukan dimana proses pengolahan akan dijalankan, kontribusi pengaruhnya terhadap biaya produksi untuk mencapai keuntungan maksimal, juga berbagai fasilitas yang akan menunjang kegiatan industri itu sendiri.
Fasilitas produksi adalah sesuatu yang dibangun, diadakan atau diinvestasikan guna melaksanakan aktivitas produksi. Lokasi pabrik yang paling ideal adalah terletak pada suatu tempat yang akhirnya mampu memberikan total biaya produksi yang rendah dan keuntungan yg maksimal. Agar tidak terjadi dampak negatif dari masyarakat, dalam memilih lokasi pabrik harus memperhatikan kelayakan aspek hukum, sosial, ekonomi dan budaya. Penentuan lokasi strategis pabrik harus memperhatikan dua faktor, yakni:
  1. Faktor primer, yaitu bahan baku dan bahan pembantu, tenaga kerja, sarana transportasi, listrik, air, komunikasi dan letak pasar sasaran.
  2. Faktor sekunder, yaitu iklim, keadaan tanah, kemungkinan pengembangan dan kebijakan pemerintah.

[Analok-Review] Webber-Losch


Alfred Webber dan August Losch merupakan pencetus teori tentang lokasi industry. Wrbber dalam teorinya menyebutkan bahwa bahwa lokasi industri sebaiknya diletakkan di tempat yang menyebutkan bahwa lokasi industri sebaiknya diletakkan ditempat yang memiliki biaya yang memiliki sewa lahan paling minimal. Tempat yang memiliki total biaya transportasi dan tenaga kerja yang minimal dan cenderung identik dengan tingkat keuntungan yang maksimal. Ada tiga faktor yang mempengaruhi lokasi industri, yaitu biaya transportasi, upah tenaga kerja, dan kekuatan aglomerasi atau deaglomerasi. Dalam menjelaskan keterkaitan biaya transportasi dan bahan baku Weber menggunakan konsep segitiga lokasi atau locational triangle untuk memperoleh lokasi optimum. Untuk menunjukkan apakah lokasi optimum tersebut lebih dekat ke lokasi bahan baku atau pasar.

[Analok-Review] Teori Christaller


Walter Christaller (1933) dengan model tempat sentral (central lace model) mengemukakan bahwa tanah yang positif adalah tanah yang mendukung pusat kota. Pusat kota tersebut ada karena untuk berbagai jasa penting harus disediakan tanah/lingkungan sekitar. Secara ideal maka kota merupakan pusat daerah yang produktif. Dengan demikian apa yang disebut tempat sentral adalah pusat kota. Berdasarkan prinsip aglomerasi (scale economics atau ekonomi skala menuju efisiensi atau kedekatan menuju sesuatu), ekonomi kota besar menjadi pusat daerahnya sendiri dan pusat kegiatan kota yang lebih kecil. Artinya, kota kecil bergantung pada tersedianya dan adanya kegiatan yang ada pada kota besar. 
Asumsi-asumsi dalam penyusunan teori oleh Christaller:
  1. Konsumen menanggung ongkos angkutan, maka jarak ke tempat pusat dinyatakan dalam biaya dan waktu.
  2. Jangkauan (range) suatu barang ditentukan oleh jarak yang dinyatakan dalam biaya dan waktu.
  3. Konsumen memilih tempat pusat yang paling dekat untuk mendapatkan barang dan jasa.
  4. Kota-kota berfungsi sebagai tempat pusat bagi wilayah sekitarnya.
  5. Wilayah tersebut adalah dataran yang rata, mempunyai cirri-ciri ekonomis sama dan penduduknya juga tersebar secara merata.

Analok-Review- 02


REVIEW LITERATUR
LOKASI & POLA RUANG
“TEORI VON THUNEN”
Dosen Pengampu :
Dra. Bitta Pigawati, MT

Disusun Oleh:
NUNGKY APRIDANINGTYAS
21040111060019

Program Studi Diploma III
Perencanaan Wilayah dan Kota - Fakultas Teknik
Universitas Diponegoro
Semarang
2012


A.    Pendahuluan
Teori ini berkembang pada mulanya diawali oleh analisis lokasi areal produksi pertanian  atau selama ini dikenal sebagai Teori Lokasi von Thunen, ditulis oleh Joann Heinrich von Thunen, seorang ekonom Jerman pada tahun 1826 dengan karya tulisnya berjudul Der isolierte Staat (The Isolated State atau Negara yang Terisolasi. Karya ini merupakan tonggak penting mengenai konsep tata uang wilayah. Dalam karyanya von Thunen mengilustrasikan suatu perumpamaan negeri terisolasi, dengan iklim dan tanah seragam, topografi seragam dan datar, serta alat transportasi yang seragam dan hanya dilayani oleh kereta yang ditarik oleh hewan atau ternak.
B.     Review Literatur
Von Thunen dalam bukunya menguraikan teori sewa lahan diferensial. Inti pembahasan von Thunen adalah mengenai lokasi dan spesialisasi pertanian berdasarkan asumsi-asumsi yang digunakan, yaitu:
a.       Wilayah model yang terisolasikan adalah bebas dari pengaruh pasar kota-kota lain
b.      Wilayah model membentuk tipe permukiman perkampungan dimana kebanyakan keluarga petani hidup pada tempat-tempat yang terpusat dan bukan tersebar di seluruh wilayah,
c.       Wilayah model memiliki iklim, tanah, topografi yang seragan ayau uniform(produktivitas secara fisik adalah sama)
d.      Wilayah model memiliki fasilitas transportasi tradisional yang relative seragam
e.       Faktor-faktor alamiah yang memoengaruhi penggunaan lahan merupakan hasil persaingan antara berbagai jenis penggunaan lahan.
Teori Von Thunen ini dapat digunakan sebagai dasar pendekatan pengembangan wilayah kawasan perbatasan, khususnya melalui pengembangan transportasi. Wilayah kawasan perbatasan di Indonesia umumnya merupakan wilayah yang memiliki jarak paling jauh dari pusat kota dan berfungsi sebagai penyedia bahan baku. Berdasarkan teori ini, kegiatan ekonomi/produksi yang paling cocok untuk wilayah ini adalah kegiatan ekonomi/produksi komoditas yang paling efisien (dihitung menurut besaran biaya produksi dan biaya transportasi) jika berada di dekat penyedia bahan baku dan jauh dari market (pusat kota). Contohnya seperti kegiatan produksi komoditas ekstraktif (barang tambang) dan peternakan. Pengembangan transportasi untuk mendukung kegiatan ekonomi/produksi ini adalah dengan membangun infrastruktur transportasi yang menghubungkan antara penyedia bahan baku dengan market (pusat kota).
Menurut Von Thunen guna lahan kota dipengaruhi oleh biaya produksi, biaya transportasi dan daya tahan hasil komoditi. Sehingga berpengaruh terhadap munculnya pasar lahan yang kompetitif. Pada model Von Thunen hubungan antara transportasi dan lokasi aktivitas terletak pada biaya transportasi dan biaya sewa lahan. Guna lahan akan menentukan nilai lahan, melalui kompetisi antara pemakai lahan. Karenanya nilai lahan akan mendistribusikan guna lahan menurut kemampuan untuk membayar sewa lahan, sehingga akan menimbulkan pasar lahan yang kompetitif. Faktor lain yang menentukan tinggi rendahnya nilai lahan adalah jarak terhadap pusat kota. Melalui adanya nilai lahan maka terbentuk zona-zona pemakaian lahan seperti lahan untuk kegiatan industri, kegiatan komersil, kegiatan industri, serta lahan untuk kegiatan pemerintahan. Selain memiliki pengaruh terhadap zona lahan, teori Von Thunen juga berpengaruh terhadap struktur keruangan kota. Perkembangan kota yang didasarkan terhadap penggunaan lahan kota memunculkan elemen-elemen baru dalam struktur keruangan kota. Salah satu contohnya adalah struktur kota di Indonesia, terdapat elemen-elemen baru dari struktur keruangan yang muncul seperti zona pelabuhan, kawasan pemerintahan, kawasan perdagangan dan lain sebagainya. Munculnya elemen-elemen baru tersebut terjadi tidak lepas dari pengaruh sejarah kota atau negara tersebut.