Pages

ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR Myspace Falling Objects @ JellyMuffin.com ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR ELF ♥ SUPER JUNIOR Myspace Layouts

Friday, December 21, 2012

[PDC-Review] INTEGRASI PENGINDERAAN JAUH DENGAN SIG


Pada masa kini kebutuhan informasi geografi makin nyata dalam negara yang sedang membangun seperti Indonesia, termasuk kegunaanya untuk pendidikan geografi dari sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Di satu sisi, diyakini bahwa informasi geografi sangat penting dalam menunjukan sumberdaya alam dan fenomena spasial, tetapi di lain pihak, informasi geografi tersebut belum diperoleh, diselenggarakan dan dikelola sebagaimana mestinya dalam pengelolaan muka bumi, karena belum menjadi prioritas dalam sistem pengelolaannya. Produk-produk perundang-undangan terkait basisdata yang telah diterbitkan oleh pemerintah RI (PP 10/2000 tentang ketelitian peta tematik pendukung tata ruang; Perpres 85/2007 tentang JDSN; dan RUU Tata Informasi Geografi), jelas memposisikan informasi geografi sebagai substansi yang sangat vital dalam penyelenggaraan negara NKRI, dan juga untuk menunjang pendidikan kebumian.
Dalam kegunaannya, system informasi geografis berintegrasi dengan penginderaan jauh yang semakin berkembang dalam hal teknik dan aplikasinya, termasuk aplikasinya di bidang geografi, sumberdaya, lingkungan, pengembangan wilayah, kajian sumberdaya alam dan mitigasi bencana alam. Perkembangan satelit di negara berkembang semakin maju, termasuk di Thailand, Indonesia dan India. Amerika sebagai super power teknologi ini, telah pula meluncurkan satelit yang menyajikan ukuran pixel detil, 0,41m, dengan nama GeoEye-1. Indonesia telah meluncurkan TUBSAT pada tahun 2007, bekerjasama dengan Jerman dan India.

[PDC-Review] INTERPRETASI CITRA UNTUK KAWASAN PERKOTAAN & PERMUKIMAN


Pertambahan jumlah penduduk dan tingkat perekonominan masyarakat dari tahun ke tahun semakin menambah kebutuhan masyarakat terhadap kebutuhan rumah. Pemanfaatan lahan - lahan  produktif dan lahan kosong sangat dibutuhkan pengembang (developer) dalam mengembangkan permukiman. Hal ini dilakukan karena lahan di tengah kota sudah tidak ada tempat yang ideal dari sisi ekonomi. Untuk itu diperlukan data dasar mengenai luas lahan yang telah berubah peruntukannya menjadi permukiman sehingga didapatkan perencanaan yang berkesinambungan. Data dasar yang digunakan pada penelitian ini berupa data spatial dan data tabular.
Data spasial berupa gambar citra berperan penting dalam analisis kawasan perkotaan dan permukiman pada masa sekarang karena melaui citra yang dihasilkan oleh teknologi penginderaan jauh, karena kemajuan teknologi mendukung diperolehnya data yang mempunyai tingkat kedetailan yang tinggi. Peningkatan penggunaannya dikarenakan citra dapat menggambarkan obyek, daerah, dan gejala di permukaan bumi. Bentuk dan letak obyek relative lengkap, dapat meliput daerah luas, dan bersifat permanen. Sehingga citra merupakan alat yang baik sekali untuk pembuatan peta, baik sebagai sumber data maupun sebagai kerangka letak. Citra dapat pula berfungsi sebagai model medan. Berbeda dengan peta yang merupakan model simbolik dan formula matematik yang merupakan model analog, citra (terutama foto udara) merupakan model ikonik karena ujud gambarnya mirip dengan obyek yang sebenarnya.
Citra penginderaan jauh (satelit) mempunyai resolusi spasial dan resolusi temporal yang tinggi, sangat tepat digunakan untuk kajian kawasan permukiman yang mengalami perkembangan sangat cepat, dan perkembangan permukiman.

[PDC-Review] Interpretasi Citra Untuk Perubahan Penggunaan Lahan


   Kondisi lahan dari tahun ke tahun selalu berubah seiring juga dengan penggunaannya. Perubahan penggunaan lahan erat kaitannya dengan pencanangan pembangunan dan perkembangan suatu wilayah sebab lahan tersebut harusnya digunakan sesuai fungsi aslinya. Penggunaan lahan merupakan hasil akhir dari setiap bentuk campur tangan kegiatan (intervensi) manusia terhadap lahan di permukaan bumi yang bersifat dinamis dan berfungsi untuk memenuhi kebutuhan hidup baik material maupun spiritual (Arsyad, 1989). Secara umum penggunaan lahan di Indonesia merupakan akibat nyata dari suatu proses yang lama dari adanya interaksi yang tetap, adanya keseimbangan, serta  keadaan dinamis antara aktifitas-aktifitas penduduk diatas lahan dan keterbatasan-keterbatasan di dalam lingkungan tempat hidup (As-syakur dkk., 2010). Penggunaan lahan berkaitan erat dengan ketersediaan lahan dan air. Ketersediaan lahan Perubahan Penggunaan Lahan Di Provinsi Bali dan air akan menentukan produktivitas sumberdaya yang mampu diproduksi, selain itu juga mampu memberikan data tentang potensi produksinya.
Analisis dapat dilakukan melalui interpretasi citra. Interpretasi citra merupakan suatu kegiatan untuk menentukan bentuk dan sifat obyek yang tampak pada citra, berikut deskripsinya.interpretasi citra dan fotogrametri berhubungan erat, meskipun keduanya tidak sama. Bedanya, fotogrametri berkepentingan dengan geometri obyek, sedangkan interpretasi citra berurusan dengan manfaat, penggunaan, asal-usul, ataupun identitas obyek yang bersangkutan (Glossary of the Mapping Science, 1994).

[PDC-Review] Spesifikasi Citra


Dalam penginderaan jauh atau remote sensing, tentunya menggunakan berbagai gambar citra dari berbagai satelit-satelit penginderaan jauh. Dalam penginderaan jauh dikenal beberapa satelit untuk proses penginderaan jauh antara lain :
·         Landsat
·         IKONOS
·         QuickBird
·         NOAA
·         IRS
·         METEOSAT-5
·         SPOT
·         EO-1, dll
Dari berbagai satelit yang digunakan diatas tentunya memiliki karakteristik dan spesifikasi yang berbeda. Kelebihan dan kekurangan pada suatu citra akan menentukan pilihan bagi pengguna sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan. Berikut merupakan spesifikasi dari beberapa citra.

[PDC-Review] Highpass Filtering & Klasifikasi Citra


A.     Highpass Filter
High pass filter adalah proses filter yang mengambil citra dengan gradiasi intensitas  yang tinggi dan perbedaan intensitas yang rendah akan dikurangi atau dibuang. Highfilter akan memperkuat komponen yang berfrekuensi tinggi dan menurunkan komponen berfrekuensi rendah. Penajaman citra lebih berpengaruh (edge) suatu objek, maka image sharpening sering disebut sebagai penajaman tepi(edge sharpening). Highpass filtering koefisien-koefisien filternya bisa bernilai positip, nol, atau negatif. Sedangkan jumlah koefisiennya adalah 0 atau 1. Apabila jumlah koefisien =  0, maka komponen berfrekuensi rendah akan turun nilainya, sedangkan apabila jumlah koefisien sama dengan 1, maka komponen berfrekuensi rendah akan tetap sama dengan nilai semula. Komponen citra yang berfrekuensi tinggi akan diloloskan dan komponen yang mempunyai frekuensi rendah akan ditahan.

[PDC-Review] Penajaman Kontras & Klasifikasi Citra


Penajaman kontras diterapkan untuk memperoleh kesan citra yang tinggi. Hal ini dapat dilakukan dengan mentransformasi seluruh nilai kecerahan. Hasilnya berupa nilai citra dengan nilai kecerahan maksimum baru yang lebih tinggi dari nilai maksimum awal, dan nilai minimum baru yang (pada umumnya) lebih rendah dari nilai minimum awal.
Histogram citra adalah suatu grafik yang menyatakan hubungan antara BV (brightness value) dengan frekuensi. Dari histogram pada suatu citra yang ada kita dapat menentukan berapa buah objek yang terdapat pada citra tersebut. Satu kurva sempurna mencerminkan satu buah objek. Jadi semakin banyak kurva yang terdapat pada suatu histogram maka semakin bervariasi pula objek pada citra tersebut. Untuk tiap band yang berbeda pada satu citra, memiliki histogram dengan bentuk kurva yang berbeda-beda pula.
Untuk penajaman citra sendiri meliputi semua operasi yang menghasilkan citra baru dengan kenampakan visual dan karakteristik visual yang berbeda (Projo, 1996). Citra baru disini maksudnya aadalah citra dengan kenampakan yang lebih bagus dibanding dengan citra aslinya.
Penajaman kontras (image enchancement) meliputi seluruh operasi untuk menghasilkan citra baru dengan kenampakan visual dan karakteristik spektral yang berbeda. Penajaman kontras dilakukan untuk membuat citra memiliki kesan kontras yang lebih tinggi dari citra awal. Penajaman citra dilakukan dengan mentransformasikan nilai piksel, maka akan terbentuk nilai piksel maksmimum yang lebih tinggi dari nilai maksimum awal dan umumnya nilai minimumnya lebih rendah dari nilai minimum awal.

[PDC-Review] Metode Penginderaan Jauh & Interpretasi Citra


Penginderaan Jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang obyek, daerah, atau gejala dengan jalan menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap obyek, daerah, atau gejala yang dikaji (Lillesand and Kiefer, 1979). Sedang menurut Lindgren, Penginderaan jauh ialah berbagai teknik yang dikembangkan untuk perolehan dan analisis informasi tentang bumi. Informasi tersebut khusus berbentuk radiasi elektromagnetik yang dipantulkan atau dipancarkan dari permukaan bumi.
Dalam pelaksanaannya, ada berbagai macam metode yang digunakan dalam penginderaan jauh, yaitu dikenal metode penginderaan jauh manual atau visual dan metode penginderaan jauh digital . Penginderaan jauh  manual memanfaatkan citra tercetak atau 'hardcopy ' (foto  udara , citra  hasil pemindaian scanner  di pesawat  udara maupun satelit ) melalui analisis dan interpretasi secara manual/visua]. Penginderaan jauh  digital  menggunakan citra dalam format digital, misalnya hasil pemotretan kamera  digital, hasil pemindaian foto udara yang sudha tercetak, dan hasil pemindaian oleh sensor satelit, dan menganalisisnya dengan bantuan komputer . Baik metode manual maupun digital menghasilkan peta dan laporan. Peta hasil metode manual dapat dikonversi menjadi peta tematik  digital melalui proses digitisasi  (sering diistilahkan digitasi). Metode manual kadangkala juga dilakukan dengan bantuan komputer, yaitu melalui proses interpretasi di layar monitor (on-screen digitisation ), yang langsung menurunkan peta  digital. Metode analisis citra digital menurunkan peta tematik  digital secara langsung. Peta -peta  digital tersebutd dapat di-'lay out' dan dicetak untuk menjadi produk kartografis  (disebut basis dat kartografis ), namun dapat pula menjaid masukan (input) dalam suatu sistem informasi geografis sebagai basis data geografis.